SEJARAH PESANTREN DARUSSALAM
Diatas sebidang tanah wakaf dari Mas Astapraja dan Siti hasanah Tahun 1929 kyai fadlil mendirikan pesantren Cidewa dengan modal 3 susunan sederhana, Rumahnya, mesjid dan pondok. Dalam waktu yang singkat pesantren yang diperjuangkan menjelma menjadi lembaga pendidikan yang disegani dengan ratusan santri mondok didalamnya. Santri yang pertama mondok disana adalah pemuda setempat yang tidak saja diajari ilmu agama tapi juga diajak bercocok tanam.
Dengan berkembangnya pesantren yang begitu pesat, ini menimbulkan orang belanda iri pada saat itu. Mereka seolah tidak suka bahkan setelah indonesia menyatakan merdeka, belanda enggan mengakuinya dan bersikukuh menganggap diri mereka sebagai ras yang layak menjaga alih ras sawo matang. Pada 1948 mereka melancarkan agresi militer yang dampaknya juga dirasakan penduduk pedesaan. Semua laki-laki dewasa cidewa ditahan, termasuk 15 santri cidewa.
Alhasil Kyai Fadlil dan cep Baim(Panggilan untuk pak Irfan Hielmy) yang saat itu berusia 15 tahun menyelamatkan diri pergi kekawasan pegunungan mengikuti rombongan Darul Islam. Mereka berpindah dari satu hutan ke hutan lain dikawasan Bojong. Dikawasan pegunungan itulah kyai ahmad Fadlil menghasilkan karya-karya termasuk terjemah kitab al-burdah.
Pada tahun 1950, kyai Ahmad Fadlil meninggal sementara Cep Baim pulang ke Cidewa untuk meneruskan perjuangan ayahanda. Setelah kyai irfan Hielmy merasa cukup siap untuk memimpin maka para sesepuh menyerahkan kepemimpinan pesantren pada beliau.
Pesantren Cidewa terus berkembang dan santri semakin banyak . Akhirnya Kyai Irfan pada tahun 1963 memutusakan untuk memindahkan pesantren ke bawah. Pada tahun itu pula nama pesantren Cidewa berganti menjadi Balai Pendidikan Pondok Pesantren Darussalam Cidewa Ciamis. Tapi, Pada tahun 1977 kata Cidewa dihilangakan menjadi Pondok Pesantren Darussalam. Sejak tahun 1967 Pesantren Darussalam menjadi pesantren yang modern yang ditandai dengan berdirinya lembaga pendidikan formal .
“Ranah Indah Nyiur Melambai” itulah sebutan yang diberikan Kyai Irfan Hielmy untuk pesantren yang dicintainya ini. Julukan itu menggambarkan kedamaian dan kesejukan yang dirasakan didalamnya.
Darussalam juga mempunyai Ciri khas dengan Motto pesantren Darussalam:
Membangun Muslim Moderat, mukmin Demokrat, dan muhsin diplomat.
Sejengkal kenangan dan setetes ilmu yang diperoleh dari hasil mondok akan membuka cakrwala kehidupan sejati seorang santri saat mereka hidup ditengah-tengah umat.
Sejarah tak akan terulang, gunakan tinta emas dalam hidupmu di pesantren . Jadilah Muslim Moderat, mukmin demokrat dan muhsin diplomat.






0 komentar:
Posting Komentar